“
KETAHANAN NASIONAL EKONOMI INDONESIA DI BIDANG PANGAN “
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Oleh : Dewi Murtikasari Dosen : Sri Waluyo
NPM : 12213294
Kelas : 2EA33

FAKULTAS
EKONOMI MANAJEMEN
UNIVERSITAS
GUNADARMA
TAHUN
2015
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan
hidayah-Nya saya dapat
menyelesaikan tulisan dengan TEMA yaitu KETAHANAN NASIONAL
dan dengan JUDUL ” KETAHANAN NASIONAL EKONOMI INDONESIA DI BIDANG PANGAN “ yang
saya susun guna memenuhi nilai Tugas Softskill pada mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan Jurusan
Manajemen Universitas Gunadarma. Tidak lupa, saya ucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini terutama kepada :
-Bp.
Sri Waluyo selaku Dosen Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
-Orang
tua saya yang telah memberi motivasi , dorongan dan semangat sehingga penulisan
ini dapat terealisasikan dengan baik.
Saya menyadari
dalam makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam isi maupun penyajiannya. Oleh karena
itu, saya sangat
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca bagi penyempurnaan penulisan ini. Harapan saya semoga makalah
ini bermanfaat dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para pembaca.
Bekasi, Juni 2015
Dewi
Murtikasari
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ................................................................................................ i
DAFTAR
ISI .............................................................................................................. ii
BAB
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah.................................................................... 1
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Ketahanan Nasional Ekonomi Di Bidang Pangan. 2
2.2 Ketahanan Nasional Ekonomi Pangan Di
Indonesia............... 2
2.3 Indonesia
Negara Pengimport Beras........................................ 3
2.4 Peran Pemerintah Dalam Memajukan
Ketahanan Nasional.....
Ekonomi Di Bidang Pangan..................................................... 4
BAB 3 KESIMPULAN
……………………………………………………… 6
BAB 4
DAFTARPUSTAKA……………….................................................... 7
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bagi
Indonesia, pangan sering diidentikkan dengan beras karena jenis pangan ini merupakan makanan pokok utama. Pengalaman
telah membuktikan kepada kita bahwa gangguan pada ketahanan pangan seperti
meroketnya kenaikan harga beras pada waktu krisis ekonomi 1997/1998, yang
berkembang menjadi krisis multidimensi, telah memicu kerawanan sosial yang
membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas Nasional.
Nilai strategis beras juga disebabkan karena
beras adalah makanan pokok paling penting. Industri perberasan memiliki
pengaruh yang besar dalam bidang ekonomi (dalam hal penyerapan tenaga kerja,
pertumbuhan dan dinamika ekonomi perdesaan, sebagai wage good), lingkungan
(menjaga tata guna air dan kebersihan udara) dan sosial politik (sebagai
perekat bangsa, mewujudkan ketertiban dan keamanan). Beras juga merupakan
sumber utama pemenuhan gizi yang meliputi kalori, protein, lemak dan vitamin.
Dengan pertimbangan pentingnya beras
tersebut, Pemerintah selalu berupaya untuk meningkatkan ketahanan pangan
terutama yang bersumber dari peningkatan produksi dalam negeri. Pertimbangan
tersebut menjadi semakin penting bagi Indonesia karena jumlah penduduknya
semakin besar dengan sebaran populasi yang luas dan cakupan geografis yang
tersebar. Untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya, Indonesia memerlukan
ketersediaan pangan dalam jumlah mencukupi dan tersebar, yang memenuhi
kecukupan konsumsi maupun stok nasional yang cukup sesuai persyaratan
operasional logistik yang luas dan tersebar. Indonesia harus menjaga ketahanan
pangannya.
1.2 Rumusan
Masalah
Dalam
penyusunan makalah ini, saya merumuskan
beberapa masalah yang berhubungan dengan pembahasan antara lain:
1.
Pengertian Ketahanan Nasional Ekonomi Di
Bidang Pangan
2. Ketahanan Nasional Ekonomi
Pangan Di Indonesia
3. Indonesia
Negara Pengimport Beras
4.
Peran Pemerintah Dalam Memajukan Ketahanan Nasioanl Ekonomi Di Bidang
Pangan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ketahanan Nasional Ekonomi Di Bidang
Pangan
Pangan merupakan kebutuhan dasar
utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Hak untuk memperoleh pangan
merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana tersebut dalam pasal 27 UUD
1945 maupun dalam Deklarasi Roma (1996).Jenis-jenis pangan dibedakan atas pangan segar dan panganolahan. Pengertian pangan segar adalah pangan yang belum mengalami pengolahan, yang dapat dikonsumsi langsung atau dijadikan bahan baku pengolahan, yang dapat dikonsumsi langsung atau dijadikan bahan baku pengolahan pangan. Misalnya beras, gandum, segala macam buah, ikan, air
segar dan sebagainya. Sedangkan, pengertian pangan olahan adalah pangan atau
minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu, dengan atautanpa bahan
tambahan
Dalam UU Ketahanan Pangan adalah"kondisi terpenuhinya Pangan bagi
negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang
cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan
terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya
masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara
berkelanjutan".
Definisi UU No 18 tahun 2012
secara substantif sejalan dengan definisi
ketahanan pangan dari FAO yang menyatakan bahwa ketahanan pangan sebagai
suatu kondisi dimana setiap orang sepanjang waktu, baik fisik maupun ekonomi,
memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi
kebutuhan gizi sehari-hari sesuai preferensinya.
2.2 Ketahanan Nasional Ekonomi Pangan Di Indonesia
Hingga awal tahun 2000-an, sebelum pemanasan global menjadi
suatu isu penting, dunia selalu optimis
mengenai ketersediaan pangan.Bahkan waktu itu, FAO memprediksi bahwa untuk 30
tahun ke
depan, peningkatan produksi pangan akan lebih besar dari
pada pertumbuhan penduduk dunia. Peningkatan produksi pangan yang
tinggi itu akan terjadi dinegara-negara maju. Selain kecukupan pangan, kualitas
makanan juga akanmembaik. Prediksi ini didasarkan pada data historis selama
dekade 80-anhingga 90-an yang menunjukkan peningkatan produksi pangan di dunia
rata-rata per tahun mencapai 2,1%, sedangkan laju pertumbuhan penduduk
duniahanya 1,6% per tahun. Memang, untuk periode 2000-2015 laju peningkatan produksi pangan diperkirakan akan menurun menjadi rata-rata 1,6% pertahun,
namun ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan
laju pertumbuhan penduduk dunia yang diprediksi 1,2% per tahun. Untuk periode 2015-2030 laju pertumbuhan produksi pangan diprediksikan akan
lebih rendah lagi yakni 1,3% per tahun tetapi juga masih lebih tinggidaripada
pertumbuhan penduduk dunia sebesar 0,8% per tahun Data dari Deptan menunjukkan
bahwa selama periode 2005-2007,harga dari sejumlah komoditas pangan penting
mengalami kenaikan lebih dari 50%. Bahkan harga kedelai naik sekitar 114%.
Namun demikian,menurut sejumlah ahli, memang harga pangan cenderung meningkat
terus,tetapi krisis pangan di dalam negeri bukan karena stok terbatas melainkan
karena akses ke pangan yang terbatas. Ada juga yang berpendapat krisis pangan
global sekarang ini adalah hasil dari kesalahan kebijakan dari lembaga-lembaga dunia
seperti Bank Dunia dan IMF dan juga kesalahan kebijakan dari banyak negara di
dunia,termasuk negara-negara yang secara potensi adalah negara besar
penghasil beras seperti Indonesia, India dan China dalam dua dekade terakhir.Schutter,
misalnya, ketua FAO mengatakan bahwa Bank Dunia dan IMFmenyepelekan pentingnya
investasi di sektor pertanian denganmempromosikan kebijakan produksi
berorientasi ekspor (Khudori, 2008).Kedua lembaga ini mendesak agar NSB yang
masuk di dalam program bantuan financial mereka menjalankan kebijakan tersebut, yaknimenghasilkan
komoditas berorientasi ekspor khususnya manufaktur, selain melaksanakan program
penyesuaian structural sebagai syarat utama untuk mendapatkan bantuan keuangan.
Kebijakan ini mengabaikan ketahanan pangan.
2.3 Indonesia
Negara Pengimport Beras
Pada
prinsipnya,impor suatu produk terjadi karena tiga alasan yaitu Pertama, produksi dalam negeri
terbatas, sedangkan permintaan domestik tinggi
(kelebihan permintaan di pasar domestik). Jadi impor hanya sebagai pelengkap.Hipotesisnya:
peningkatan produksi dalam negeri akan mengurangi impor.Keterbatasan produksi
dalam negeri tersebut bisa karena dua hal, yakni
1.
kapasitas produksi memang terbatas
(titik optimum dalam skala ekonomissudah tercapai), misalnya untuk kasus pertanian,
lahan yang tersedia terbataskarena negaranya memang kecil
2. pemakaian
kapasitas terpasangmasih dibawah 100% karenaberbagai penyebab, bisa karena
keterbatasandana atau kurangnya tenaga kerja.
Kedua,
impor lebih murah dibandingkandengan harga dari produk sendiri, yang
dikarenakan berbagai factor, seperti ekonomi biaya tinggi atau tingkat
efisiensi yang rendah dalam produksidalam negeri, atau kualitas produk impor
lebih baik dengan harga yangrelatif sama. Hipotesisnya: peningkatan impor akan
mengurangi produksi dalam negeri.
Ketiga,
dilihat dari sisi neraca perdagangan (atau neraca
pembayaran), impor lebih menguntungkan karena produksi dalam negeri bisa untuk ekspor dengan asumís harga ekspor dipasar luar negeri lebih
tinggi daripada harga impor yang harus dibayar. Ini berlaku bagi produk
diferensiasi seperti dalam kasus persaingan monopolistik.Ketergantungan
Indonesia pada impor beras selama ini rasanya lebih dikarenakan produksi dalam
negeri yang terbatas, atau yang jelas bukankarena motivasi keuntungan dalam
perdagangan luar negeri.
Memang, bukan hanya Indonesia, tetapi banyak NSB lainnya yang juga sangat
tergantung pada impor untuk kebutuhan pangan mereka, dan ketergantungan
tersebut semakin besar jika dibandingkan 10 atau 20 tahun yang lalu.Menurut
data FAO, impor pangan NSB tahun 1995 sekitar 170 juta ton, dan diperkirakan
akan meningkat menjadi 270 juta ton tahun 2030.Sebaliknya, ekspor produk-produk
pangan dari NM seperti AS, Kanada,Australia dan UE akan semakin besar,yang oleh
FAO diperkirakan akannaikdari 142 juta ton tahun 1995 menjadi 280 juta ton
tahun 2030. Dalam hal beras, walaupun masalah impor beras di
dalam negeri rame dibicarakan barusejak terjadinya krisis ekonomi
1997/98, namun sebenarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor beras sudah
sejak era Orde Baru; bahkan jauh sebelum era tersebut. Berdasarkan analisanya
terhadap data FAO(FAOSTAT), Dawe (2008) menunjukkan bahwa memang Indonesia
sudah menjadi negara pengimpor beras paling tidak dalam 100 tahun
terakhir,dengan pangsa impor beras dalam konsumsi domestik rata-rata 5% dalam
seabad yang lalu dan 4% dalam 15 tahun terakhir. Hanya pada tahun-tahun
tertentu, Indonesia tidak mengimpor beras. Karena Indonesia adalah sebuah
negara kepulauan, dan banyak pulau yang masih relatif terisolasi
karena buruknya infrastruktur, maka perlu juga dilihat tingkat
ketergantungan impor atau produksi atau kecukupan beras per wilayah (propinsi
atau pulau).Dengan kondisi geografi dan infrastruktur seperti itu, tidak
mustahil(bahkan sering terjadi) bahwa, di satu sisi, pada tingkat nasional
Indonesia swasembada beras atau tidak ada masalah dengan kecukupan beras,
namun,di sisi lain, tidak semua propinsi/pulau di dalam negeri
mengalamikecukupan beras. Dengan memakai data produksi padi dari BPS untuk
periode 1995-1999, hasil studi dari Natawidjaya (2001) menunjukkan hal
tersebut, yakni adanya perbedaan yang cukup signifikan antar propinsi dalam
jumlah produksi ekuivalen beras yang tersedia untuk dikonsumsikan.Pulau Jawa
memiliki banyak ketersediaan beras sebagai hasil daritingginya volume produksi
padidi pulau tersebut, sedangkan
propinsi- propinsi di luar Jawa yang juga memiliki banyak persediaan beras adalah
Sumatera Utara dan Sulawesi yang ketersediaan ekuivalen beras sekitar 6%hingga
8% dari ketersediaan nasional dari hasil produksi dalam negeri. Natawidjaya
juga melihat tingkat kebutuhan konsumsi beras per propinsi yang dihitung dengan
memakai data tingkat konsumsi beras per kapita per tahun dikalikan jumlah penduduk per propinsi. Hasilnya menunjukkan bahwa propinsi-propinsi
yang mengalami defisit beras lebih banyak terdapat dikawasan timur Indonesia,
sedangkan propinsi-propinsi yang mengalami kelebihan beraslebih banyak dari kawasan
barat Indonesia, terutama di Jawa Barat.
2.4 Peran
Pemerintah Dalam Memajukan Ketahanan Nasioanl Ekonomi Di Bidang Pangan
1. Memperkuat struktur ekonomi masyarakat berbasis
agribisnis dan meningkatkan peranan serta swadaya masyarakat lokal
Strategi umum pembangunan pertahanan pangan misal dalam
hal pertanian adalah memajukan agribisnis, yaitu membangun secara sinergis dan
harmonis aspek-aspek:
1.
industri
hulu pertanian yang meliputi perbenihan, input produksi lainnya dan alat mesin
pertanian
2.
pertanian
primer (on-farm)
3.
industri
hilir pertanian (pengolahan hasil); dan
4.
jasa-jasa
penunjang yang terkait.
2.
Membuat
kebijakan yang dapat memperkuat pertahan pangan dengan mendukung penyediaan pangan terutama dari produksi
domestik.
3.
Pengembangan
inovasi teknologi seperti pengembangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)
4.
Diversifikasi
Produksi Pangan untuk peningkatan
pendapatan petani dan memperkecil resiko berusaha.
5.
Pemerintah
harus lebih memberikan dukungan dan kontribusi terhadap komoditas lokal.Kebijakan
pemerintah harus mengacu pada produksi dan konsumen dalam negeri serta suplai pangan dalam negeri harus rutin. Harus ada teknologi yang mendukung
seperti pengaturan curah ujan, dll.
6.
Menghimbau
kelompok tani yang ada di daerah memanfaatkan lumbung pangan untuk menabung
hasil panen mereka
7.
Penahanan Konversi Lahan Padi
Ada satu paradoks yang pelik terkait lahan
padi di Indonesia. Daerah yang paling subur dan cocok untuk bertanam padi
adalah di Jawa, terutama di Pantura. Tetapi, kegunaan paling efisien dari lahan
tersebut bukanlah untuk bertanam padi, karena lebih menguntungkan jika diubah
menjadi kawasan industri atau pemukiman. Dan lagi, semakin banyak kawasan yang
berubah jadi kawasan industri, semakin menguntungkan membangun kawasan industry
lainnya di Pantura (efek aglomerasi)
8.
Melakukan
pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
Adalah
menjamin tersedianya pendanaan dalam penyelenggaraan Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah
Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota meliputi: perencanaan dan penetapan, pengembangan,
penelitian, pemanfaatan, pembinaan, pengendalian, pengawasan, sistem informasi,
serta perlindungan dan pemberdayaan Petani.
BAB
III
KESIMPULAN
Bagi ketahanan nasional, aspek ekonomi juga
merupakan hal yang
sangat penting karena dengan ekonomi yang stabil akan perpengaruh positif terhadap
ketahanan nasional suatu Negara. Perekonomian merupakan salah satu aspek kehidupan
nasional yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat, meliputi
produksi, distribusi, serta konsumsi barang dan jasa.Oleh karena itulah aspek
ekonomi sangat berpengaruh karena terlibat langsung dengan masyarakat.
Sebagai
contoh adalah ketahanan nasional
dalam bidang pangan. Dengan ekonomi yang baik tentu saja suatu Negara tidak akan
esulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan warga negaranya. Kelaparan tidak akan
terjadi dan kemiskinan perlahan dapat berkurang.
Adanya proses impor beras dari luar negri
disaat nilai produksi beras di Indonesia mengalami surplus memang banyak menimbulkan
tanda Tanya. Seharusnya pemerintah dalam hal ini khususnya Bulog melakukan
manajemen stok yang lebih baik, bulog harus memaksimalkan penyerapan beras dari
para petani lokal. Hal ini selain dapat mengamankan stok beras juga dapat
menghasilkan pendapatan bagi petani sehingga kesejahteraan petani dapat naik.
Bulog harus lebih agresif menyerap gabah dari petani agar mereka tidak
dirugikan.Pemerintah diharapkan dapat menggelar operasi pasar untuk
menstabilkan harga. Hal ini tentunya harus diimbangi dengan manajemen stok yang
baik. Pemerintah harus berkomitmen kuat mengatasi segala persoalan perberasan
nasional secara komprehensif dari hulu ke hilir agar tidak harus selalu
bergantung pada impor.
BAB
IV
DAFTAR
PUSTAKA
2. Ariani, Mewa. 2006. Diversifikasi Pangan
di Indonesia : Antara Harapan dan Kenyataan. Forum Agro Ekonomi, Jakarta.
3. Azyumardi, Azra. 2008. Pendidikan
Kewarganegaraan. Jakarta. ICCE
4. Jokolelono, Eko.2011.Pangan dan Ketersediaan
Pangan Media Litbang SultengIV(2):88-96, Desember 2011.ISSN : 1979-5971
5. Setiawan, Budi I.2012. Optimalisasi
Diversifikasi Pangan guna mewujudkan Ketahanan Pangan Nsional yang
Berkelanjutan. Majalah TANNAS Edisi 94-2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar