Minggu, 21 Juni 2015

“ KETAHANAN NASIONAL EKONOMI INDONESIA DI BIDANG PANGAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Oleh  : Dewi Murtikasari                                              Dosen   : Sri Waluyo
NPM : 12213294
Kelas : 2EA33
logo_gunadarma.png

FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
TAHUN 2015


 KATA PENGANTAR

              Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang mana berkat rahmat dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan tulisan dengan TEMA yaitu KETAHANAN NASIONAL dan dengan JUDUL ” KETAHANAN NASIONAL EKONOMI INDONESIA DI BIDANG PANGAN “ yang saya susun guna memenuhi nilai Tugas Softskill pada mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan Jurusan Manajemen Universitas Gunadarma. Tidak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini terutama kepada :
-Bp. Sri Waluyo selaku Dosen Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
-Orang tua saya yang telah memberi motivasi , dorongan dan semangat sehingga penulisan ini dapat terealisasikan dengan baik.

              Saya menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam isi maupun penyajiannya. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca bagi penyempurnaan penulisan ini. Harapan saya semoga makalah ini bermanfaat dan menjadikan sumber pengetahuan bagi para pembaca.




                                                                                                                        Bekasi, Juni 2015
                                                               


Dewi Murtikasari





DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ................................................................................................       i

DAFTAR ISI ..............................................................................................................      ii

BAB    1          PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang.........................................................................      1
1.2              Rumusan Masalah....................................................................      1

BAB    2          PEMBAHASAN

2.1        Pengertian Ketahanan Nasional Ekonomi Di Bidang Pangan.      2
2.2        Ketahanan Nasional Ekonomi Pangan Di Indonesia...............      2
2.3        Indonesia Negara Pengimport Beras........................................      3
2.4        Peran Pemerintah Dalam Memajukan Ketahanan Nasional.....       
      Ekonomi Di Bidang Pangan.....................................................      4

BAB    3          KESIMPULAN ………………………………………………………   6                         
BAB    4         DAFTARPUSTAKA………………....................................................       7





 BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

  Bagi Indonesia, pangan sering diidentikkan dengan beras karena jenis pangan ini merupakan makanan pokok utama. Pengalaman telah membuktikan kepada kita bahwa gangguan pada ketahanan pangan seperti meroketnya kenaikan harga beras pada waktu krisis ekonomi 1997/1998, yang berkembang menjadi krisis multidimensi, telah memicu kerawanan sosial yang membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas Nasional.
Nilai strategis beras juga disebabkan karena beras adalah makanan pokok paling penting. Industri perberasan memiliki pengaruh yang besar dalam bidang ekonomi (dalam hal penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan dan dinamika ekonomi perdesaan, sebagai wage good), lingkungan (menjaga tata guna air dan kebersihan udara) dan sosial politik (sebagai perekat bangsa, mewujudkan ketertiban dan keamanan). Beras juga merupakan sumber utama pemenuhan gizi yang meliputi kalori, protein, lemak dan vitamin.
Dengan pertimbangan pentingnya beras tersebut, Pemerintah selalu berupaya untuk meningkatkan ketahanan pangan terutama yang bersumber dari peningkatan produksi dalam negeri. Pertimbangan tersebut menjadi semakin penting bagi Indonesia karena jumlah penduduknya semakin besar dengan sebaran populasi yang luas dan cakupan geografis yang tersebar. Untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya, Indonesia memerlukan ketersediaan pangan dalam jumlah mencukupi dan tersebar, yang memenuhi kecukupan konsumsi maupun stok nasional yang cukup sesuai persyaratan operasional logistik yang luas dan tersebar. Indonesia harus menjaga ketahanan pangannya.

1.2 Rumusan Masalah

  Dalam penyusunan makalah ini, saya merumuskan beberapa masalah yang berhubungan dengan pembahasan antara lain:
1.      Pengertian Ketahanan Nasional Ekonomi Di Bidang Pangan
2.      Ketahanan Nasional Ekonomi Pangan Di Indonesia
3.      Indonesia Negara Pengimport Beras
4.      Peran Pemerintah Dalam Memajukan Ketahanan Nasioanl Ekonomi Di Bidang Pangan




BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Ketahanan Nasional Ekonomi Di Bidang Pangan

   Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana tersebut dalam pasal 27 UUD 1945 maupun dalam Deklarasi Roma (1996).Jenis-jenis pangan dibedakan atas pangan segar dan panganolahan. Pengertian pangan segar adalah pangan yang belum mengalami pengolahan, yang dapat dikonsumsi langsung atau dijadikan bahan baku pengolahan, yang dapat dikonsumsi langsung atau dijadikan bahan baku pengolahan pangan. Misalnya beras, gandum, segala macam buah, ikan, air segar dan sebagainya. Sedangkan, pengertian pangan olahan adalah pangan atau minuman hasil proses dengan cara atau metode tertentu, dengan atautanpa bahan tambahan
Dalam UU Ketahanan Pangan adalah"kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan".
Definisi UU No 18 tahun 2012 secara substantif sejalan dengan definisi ketahanan pangan dari FAO yang menyatakan bahwa ketahanan pangan sebagai suatu kondisi dimana setiap orang sepanjang waktu, baik fisik maupun ekonomi, memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari sesuai preferensinya.

2.2 Ketahanan Nasional Ekonomi Pangan Di Indonesia

   Hingga awal tahun 2000-an, sebelum pemanasan global menjadi suatu isu penting,   dunia selalu optimis mengenai ketersediaan pangan.Bahkan waktu itu, FAO memprediksi bahwa untuk 30 tahun ke depan, peningkatan produksi pangan akan lebih besar dari pada pertumbuhan penduduk dunia. Peningkatan produksi pangan yang tinggi itu akan terjadi dinegara-negara maju. Selain kecukupan pangan, kualitas makanan juga akanmembaik. Prediksi ini didasarkan pada data historis selama dekade 80-anhingga 90-an yang menunjukkan peningkatan produksi pangan di dunia rata-rata per tahun mencapai 2,1%, sedangkan laju pertumbuhan penduduk duniahanya 1,6% per tahun. Memang, untuk periode 2000-2015 laju peningkatan produksi pangan diperkirakan akan menurun menjadi rata-rata 1,6% pertahun, namun ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk dunia yang diprediksi 1,2% per tahun. Untuk periode 2015-2030 laju pertumbuhan produksi pangan diprediksikan akan lebih rendah lagi yakni 1,3% per tahun tetapi juga masih lebih tinggidaripada pertumbuhan penduduk dunia sebesar 0,8% per tahun Data dari Deptan menunjukkan bahwa selama periode 2005-2007,harga dari sejumlah komoditas pangan penting mengalami kenaikan lebih dari 50%. Bahkan harga kedelai naik sekitar 114%. Namun demikian,menurut sejumlah ahli, memang harga pangan cenderung meningkat terus,tetapi krisis pangan di dalam negeri bukan karena stok terbatas melainkan karena akses ke pangan yang terbatas. Ada juga yang berpendapat krisis pangan global sekarang ini adalah hasil dari kesalahan kebijakan dari lembaga-lembaga dunia seperti Bank Dunia dan IMF dan juga kesalahan kebijakan dari banyak negara di dunia,termasuk negara-negara yang secara potensi adalah negara besar penghasil beras seperti Indonesia, India dan China dalam dua dekade terakhir.Schutter, misalnya, ketua FAO mengatakan bahwa Bank Dunia dan IMFmenyepelekan pentingnya investasi di sektor pertanian denganmempromosikan kebijakan produksi berorientasi ekspor (Khudori, 2008).Kedua lembaga ini mendesak agar NSB yang masuk di dalam program bantuan financial mereka menjalankan kebijakan tersebut, yaknimenghasilkan komoditas berorientasi ekspor khususnya manufaktur, selain melaksanakan program penyesuaian structural sebagai syarat utama untuk mendapatkan bantuan keuangan. Kebijakan ini mengabaikan ketahanan pangan.

2.3 Indonesia Negara Pengimport Beras

   Pada prinsipnya,impor suatu produk terjadi karena tiga alasan yaitu Pertama, produksi dalam negeri terbatas, sedangkan permintaan domestik tinggi (kelebihan permintaan di pasar domestik). Jadi impor hanya sebagai pelengkap.Hipotesisnya: peningkatan produksi dalam negeri akan mengurangi impor.Keterbatasan produksi dalam negeri tersebut bisa karena dua hal, yakni
1.      kapasitas produksi memang terbatas (titik optimum dalam skala ekonomissudah tercapai), misalnya untuk kasus pertanian, lahan yang tersedia terbataskarena negaranya memang kecil
2.      pemakaian kapasitas terpasangmasih dibawah 100% karenaberbagai penyebab, bisa karena keterbatasandana atau kurangnya tenaga kerja.
Kedua, impor lebih murah dibandingkandengan harga dari produk sendiri, yang dikarenakan berbagai factor, seperti ekonomi biaya tinggi atau tingkat efisiensi yang rendah dalam produksidalam negeri, atau kualitas produk impor lebih baik dengan harga yangrelatif sama. Hipotesisnya: peningkatan impor akan mengurangi produksi dalam negeri.
Ketiga, dilihat dari sisi neraca perdagangan (atau neraca pembayaran), impor lebih menguntungkan karena produksi dalam negeri bisa untuk ekspor dengan asumís harga ekspor dipasar luar negeri lebih tinggi daripada harga impor yang harus dibayar. Ini berlaku bagi produk diferensiasi seperti dalam kasus persaingan monopolistik.Ketergantungan Indonesia pada impor beras selama ini rasanya lebih dikarenakan produksi dalam negeri yang terbatas, atau yang jelas bukankarena motivasi keuntungan dalam perdagangan luar negeri. Memang, bukan hanya Indonesia, tetapi banyak NSB lainnya yang juga sangat tergantung pada impor untuk kebutuhan pangan mereka, dan ketergantungan tersebut semakin besar jika dibandingkan 10 atau 20 tahun yang lalu.Menurut data FAO, impor pangan NSB tahun 1995 sekitar 170 juta ton, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 270 juta ton tahun 2030.Sebaliknya, ekspor produk-produk pangan dari NM seperti AS, Kanada,Australia dan UE akan semakin besar,yang oleh FAO diperkirakan akannaikdari 142 juta ton tahun 1995 menjadi 280 juta ton tahun 2030. Dalam hal beras, walaupun masalah impor beras di dalam negeri rame dibicarakan barusejak terjadinya krisis ekonomi 1997/98, namun sebenarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor beras sudah sejak era Orde Baru; bahkan jauh sebelum era tersebut. Berdasarkan analisanya terhadap data FAO(FAOSTAT), Dawe (2008) menunjukkan bahwa memang Indonesia sudah menjadi negara pengimpor beras paling tidak dalam 100 tahun terakhir,dengan pangsa impor beras dalam konsumsi domestik rata-rata 5% dalam seabad yang lalu dan 4% dalam 15 tahun terakhir. Hanya pada tahun-tahun tertentu, Indonesia tidak mengimpor beras. Karena Indonesia adalah sebuah negara kepulauan, dan banyak pulau yang masih relatif terisolasi karena buruknya infrastruktur, maka perlu juga dilihat tingkat ketergantungan impor atau produksi atau kecukupan beras per wilayah (propinsi atau pulau).Dengan kondisi geografi dan infrastruktur seperti itu, tidak mustahil(bahkan sering terjadi) bahwa, di satu sisi, pada tingkat nasional Indonesia swasembada beras atau tidak ada masalah dengan kecukupan beras, namun,di sisi lain, tidak semua propinsi/pulau di dalam negeri mengalamikecukupan beras. Dengan memakai data produksi padi dari BPS untuk periode 1995-1999, hasil studi dari Natawidjaya (2001) menunjukkan hal tersebut, yakni adanya perbedaan yang cukup signifikan antar propinsi dalam jumlah produksi ekuivalen beras yang tersedia untuk dikonsumsikan.Pulau Jawa memiliki banyak ketersediaan beras sebagai hasil daritingginya volume produksi padidi pulau tersebut, sedangkan propinsi- propinsi di luar Jawa yang juga memiliki banyak persediaan beras adalah Sumatera Utara dan Sulawesi yang ketersediaan ekuivalen beras sekitar 6%hingga 8% dari ketersediaan nasional dari hasil produksi dalam negeri. Natawidjaya juga melihat tingkat kebutuhan konsumsi beras per propinsi yang dihitung dengan memakai data tingkat konsumsi beras per kapita per tahun dikalikan jumlah penduduk per propinsi. Hasilnya menunjukkan bahwa propinsi-propinsi yang mengalami defisit beras lebih banyak terdapat dikawasan timur Indonesia, sedangkan propinsi-propinsi yang mengalami kelebihan beraslebih banyak dari kawasan barat Indonesia, terutama di Jawa Barat.

2.4 Peran Pemerintah Dalam Memajukan Ketahanan Nasioanl Ekonomi Di Bidang Pangan

1.      Memperkuat struktur ekonomi masyarakat berbasis agribisnis dan meningkatkan peranan serta swadaya masyarakat lokal
Strategi umum pembangunan pertahanan pangan misal dalam hal pertanian adalah memajukan agribisnis, yaitu membangun secara sinergis dan harmonis aspek-aspek:
1.      industri hulu pertanian yang meliputi perbenihan, input produksi lainnya dan alat mesin pertanian
2.      pertanian primer (on-farm)
3.      industri hilir pertanian (pengolahan hasil); dan
4.      jasa-jasa penunjang yang terkait.
2.      Membuat kebijakan yang dapat memperkuat pertahan pangan dengan mendukung penyediaan pangan terutama dari produksi domestik.
3.      Pengembangan inovasi teknologi seperti pengembangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)
4.      Diversifikasi Produksi Pangan untuk peningkatan pendapatan petani dan memperkecil resiko berusaha.
5.      Pemerintah harus lebih memberikan dukungan dan kontribusi terhadap komoditas lokal.Kebijakan pemerintah harus mengacu pada produksi dan konsumen dalam negeri serta suplai pangan dalam negeri harus rutin. Harus ada teknologi yang mendukung seperti pengaturan curah ujan, dll.
6.      Menghimbau kelompok tani yang ada di daerah memanfaatkan lumbung pangan untuk menabung hasil panen mereka
7.      Penahanan Konversi Lahan Padi
Ada satu paradoks yang pelik terkait lahan padi di Indonesia. Daerah yang paling subur dan cocok untuk bertanam padi adalah di Jawa, terutama di Pantura. Tetapi, kegunaan paling efisien dari lahan tersebut bukanlah untuk bertanam padi, karena lebih menguntungkan jika diubah menjadi kawasan industri atau pemukiman. Dan lagi, semakin banyak kawasan yang berubah jadi kawasan industri, semakin menguntungkan membangun kawasan industry lainnya di Pantura (efek aglomerasi)
8.      Melakukan pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
Adalah menjamin tersedianya pendanaan dalam penyelenggaraan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota meliputi: perencanaan dan penetapan, pengembangan, penelitian, pemanfaatan, pembinaan, pengendalian, pengawasan, sistem informasi, serta perlindungan dan pemberdayaan Petani.




BAB III
KESIMPULAN

   Bagi ketahanan nasional, aspek ekonomi juga merupakan hal yang sangat penting karena dengan ekonomi yang stabil akan perpengaruh positif terhadap ketahanan nasional suatu Negara. Perekonomian merupakan salah satu aspek kehidupan nasional yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat, meliputi produksi, distribusi, serta konsumsi barang dan jasa.Oleh karena itulah aspek ekonomi sangat berpengaruh karena terlibat langsung dengan masyarakat.
Sebagai contoh adalah ketahanan nasional dalam bidang pangan. Dengan ekonomi yang baik tentu saja suatu Negara tidak akan esulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan warga negaranya. Kelaparan tidak akan terjadi dan kemiskinan perlahan dapat berkurang.
   Adanya proses impor beras dari luar negri disaat nilai produksi beras di Indonesia mengalami surplus memang banyak menimbulkan tanda Tanya. Seharusnya pemerintah dalam hal ini khususnya Bulog melakukan manajemen stok yang lebih baik, bulog harus memaksimalkan penyerapan beras dari para petani lokal. Hal ini selain dapat mengamankan stok beras juga dapat menghasilkan pendapatan bagi petani sehingga kesejahteraan petani dapat naik. Bulog harus lebih agresif menyerap gabah dari petani agar mereka tidak dirugikan.Pemerintah diharapkan dapat menggelar operasi pasar untuk menstabilkan harga. Hal ini tentunya harus diimbangi dengan manajemen stok yang baik. Pemerintah harus berkomitmen kuat mengatasi segala persoalan perberasan nasional secara komprehensif dari hulu ke hilir agar tidak harus selalu bergantung pada impor.



BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

2.      Ariani, Mewa. 2006. Diversifikasi Pangan di Indonesia : Antara Harapan dan Kenyataan. Forum Agro Ekonomi, Jakarta.
3.      Azyumardi, Azra. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta. ICCE
4.      Jokolelono, Eko.2011.Pangan dan Ketersediaan Pangan Media Litbang SultengIV(2):88-96, Desember 2011.ISSN : 1979-5971
5.      Setiawan, Budi I.2012. Optimalisasi Diversifikasi Pangan guna mewujudkan Ketahanan Pangan Nsional yang Berkelanjutan. Majalah TANNAS Edisi 94-2012




Tidak ada komentar:

Posting Komentar